US$60 Miliar Terbuang Sia-sia Dalam Perang


Headline
Washington Sebanyak US$60 miliar dari dana Amerika Serikat (AS) terbuang sia-sia dalam perang Irak dan Afghanistan selama satu dekade terakhir. Bagaimana bisa?
Dalam laporan terbarunya kepada Kongres (DPR AS), Comission on Wartime Contracting menyatakan, dana sebesar itu terbuang karena kurangnya pengawasan terhadap kontraktor. Selain perencanaan yang tak matang dan korupsi. Komisi tersebut merasa, jumlah itu masih bisa meningkat lagi.
Sebab, dukungan Amerika untuk proyek-proyek rekonstruksi dan sejumlah program yang sedang berjalan, sudah mula kendor. Irak dan Afghanistan pun kewalahan harus menanggung biaya untuk sekolah-sekolah, klinik medis, barak militer, jalan serta pembangkit listrik yang dibangun AS.
Keluarnya dana sia-sia dan penggelapan ini, saran komisi tersebut, sebenarnya bisa dihindari jika ada perencanaan yang lebih matang serta pengawasan agresif. Untuk menghindari kesalahan yang sama di kedua negara itu, badan-badan pemerintah harus lebih mengawasi kontraktor di zona perang.
Laporan setebal 240 halaman ini telah dirilis beberapa hari lalu. Komisi yang menyusunnya, dibentuk oleh Kongres pada 2008 dan beranggotakan delapan orang. Mereka melakukan penyelidikan hingga ke Irak dan Afghanistan, bertugas memeriksa hubungan pemerintah AS dengan kontraktor pertahanan.
Bagi komisi ini, mengkalkulasi jumlah yang hilang sia-sia atau digelapkan merupakan hal yang sulit. Sebab, tak ada metodologi untuk melakukannya. Informasi yang dikumpulkan selama beberapa hari terakhir menunjukkan, setidaknya US$31 miliar hilang dan jumlahnya bisa mencapai US$60 miliar.
Secara keseluruhan, komisi menyatakan biaya kontrak untuk mendukung operasi AS di orak dan Afghanistan diperkirakan akan melebihi US$206 miliar per 2011. Berdasarkan penyelidikan, kontrak di Afghanistan mencapai 10-20% dari total dan penggelapan mencapai 5-9%.
Komite ini terinspirasi dari Truman Committee, yang menyelidiki dana Perang Dunia II, enam dekade lalu. Mereka diberi otoritas seluas mungkin untuk meneliti kontrak pendukung militer, proyek rekonstruksi dan perusahaan keamanan pribadi.
Mereka akan berhenti beroperasi per 1 September ini, meski operasi di Irak dan Afghanistan masih terus dilakukan dengan bantuan para kontraktor. Mereka memiliki sejumlah contoh dana sia-sia, seperti US$360 juta untuk program pengembangan pertanian Afghanistan.
Program ini dimulai dari proyek US$60 juta pada 2009 lalu, untuk membagikan bibit gandum dan pupuk di area kekeringan Afghanistan Utara. Program ini berkembang hingga ke selatan dan timur, yang pada akhirnya dana membengkak jadi US$1 juta per hari.
Membayar penduduk desa untuk hal yang tadinya mereka lakukan secara sukarela, merusak inisitif lokal. Proyek pun melebar, barang-barangnya malah dijual kembali ke penduduk Pakistan, demikian laporan komisi itu.
Kontraktor mendapatkan tugas untuk membantu meringankan beban pejabat pemerintah, misalnya evaluasi atau dukungan untuk manajemen. Hal ini bisa menciptakan konflik kepentingan yang amat serius karena mereka kurang kompeten atau tidak profesional.
Sepuluh tahun perang di Irak dan Afghanistan, Amerika menggunakan terlalu banyak kontraktor untuk fungsi-fungsi berlebihan dan tanpa berpikir panjang atau pengawasan ketat, lanjutnya.
Ketergantungan pada kontraktor ini juga bisa menambah korban manusia. Kontraktor bisa saja tewas atau menderita cedera berat yang selama ini tidak dipublikasikan pemerintah AS kepada media. Per Oktober 2001-Juli 2011, 2.429 kontraktor tewas di kedua negara tersebut.

No Response to "US$60 Miliar Terbuang Sia-sia Dalam Perang"

Posting Komentar